Friday, 11 September 2009

Kelvin Anggara: Emas Kimia Pertama untuk Negara

Berdegup kencang jantung Kelvin Anggara saat namanya diumumkan meraih medali emas pada ajang Olimpiade Kimia Internasional (International Chemistry Olympiad - IChO) ke-40, di Budapest, Agustus 2008. ''Saya masih tidak percaya,'' katanya mengenang.

Dia pantas terkejut. Pasalnya, hingga menjelang pengumuman, Kelvin - juga anggota tim yang lain - tidak pernah membayangkan akan menuai hasil yang memuaskan.

Sampai tiba momen tadi, dia pun masih bimbang, benarkah dirinya menjadi yang terbaik ? Dan keraguannya langsung terjawab, manakala namanya dipanggil sebagai peraih medali emas.

Kelvin pun mengukir sejarah baru bagi prestasi Tim Olimpiade Kimia Indonesia. Sejak 1997, siswa Indonesia yang mengikuti ajang adu kemampuan di bidang kimia, belum pernah ada yang mampu meraih predikat tertinggi.

Jadi, inilah saat bersejarah tersebut. ''Saya senang bisa memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara,'' ucap Kelvin, sesaat setelah tiba kembali di Jakarta.

Prestasi yang jelas sangat membanggakan. Terlebih, Kelvin dan pendamping Tim Olimpiade Kimia Indonesia yang diketuai Riwandi Sihombing, PhD hanya mematok target dua perak dan dua perunggu.

Target itu dianggap realistis, mengingat latar belakang negara tuan rumah yang memang dikenal dengan sains yang kuat. Apalagi, soal-soal yang diujikan, memiliki banyak jebakan sehingga agak sulit diinterpretasikan dengan tepat bila tidak dicermati dengan baik.

Kagumi Pilot

Baginya, pelajaran kimia atau bidang sains yang lain, tak terlampau sulit dimengerti, asalkan memahami filosofinya. ''Kalau kimia, kita membayangkan yang besar dari yang kecil.'' Itu pula yang kerap dia sarankan kepada siswa yang lain agar lebih mudah memahami pelajaran ini.

Maka itu, dibandingkan pelajaran yang membutuhkan kemampuan berhitung, Kelvin lebih senang dengan pelajaran kimia. ''(Pelajaran) hitung-hitungan cepat bosan,'' urainya kemudian.

Dan kemampuan tersebut sejatinya memang dia peroleh berkat perpaduan minat dan kesabaran. Kelvin sudah menaruh perhatian yang besar terhadap bidang sains sejak masih kecil.

Adalah sang ayah, Januar Anggara, yang secara tidak sengaja, menanamkan keingintahuan yang besar terhadap sains pada diri Kelvin kecil. Suatu saat, keduanya pernah berjalan-jalan ke Singapura.

Selama perjalanan lewat udara itu, Kevin lantas membayangkan betapa hebatnya seorang pilot yang bisa menerbangkan pesawat. Penampilannya pun keren. Dalam hati ia berangan-angan, kelak ingin seperti sang pilot.

Tiba di negeri Singa, Januar membawa Kelvin ke tempat permainan anak-anak yang terbilang modern, sesuatu yang tidak pernah ia temukan di kota kelahirannya, Medan.

Kelvin kecil tak sebatas menikmati permainan itu, tapi juga kagum melihatnya. Dia melihat banyak alat peraga yang menarik. Hati kecilnya pun terketuk, kelak dia ingin menjadi bagian yang dapat menciptakan alat semacam itu. ''Saya mau jadi ilmuwan,'' gumamnya dalam hati.

Tak patah arang

Kenangan masa kecil itu terus membayang, bahkan menyertai perjalanan hidup remaja kelahiran 10 November 1990 ini. ''Itu berpengaruh sekali. Sampai sekarang saya kagum dengan alat peraga dari permainan-permainan itu,'' katanya, kala itu. Kekaguman tersebut, diakui, memberinya motivasi untuk terus belajar science.

Sulung dari tiga bersaudara putra pasangan Januar Anggara dan Diana Ling Wijaya, jadi kian rajin membaca buku-buku ilmu pengetahuan. Ia juga aktif mengutak-atik komputer.

Ketika menimba ilmu di Sekolah Menengah Atas (SMA) Sutomo 1 Medan, kegemarannya akan komputer mengantarnya menjadi salah seorang anggota Tim Olimpiade Komputer Indonesia ke ajang Olimpiade Komputer Internasional.

Tak berhasil meraih medali emas, tidak membuatnya patah arang. Atas saran gurunya, Kelvin mengikuti seleksi tim Olimpiade Kimia Indonesia. Saran itu terbukti benar. Setelah dinyatakan lolos seleksi, Juni 2008 Kelvin terpilih bersama tiga siswa lainnya dari berbagai sekolah untuk berangkat ke Budapest, Hungaria.

Sampai akhirnya, medali emas pun dia persembahkan untuk bangsa dan negara. ''Sebenarnya, tidak ada yang menonjol saat memahami pelajaran kimia. Saya belajarnya juga biasa-biasa saja, sebagaimana teman-teman yang lain,'' katanya, merendah.

Di keseharian, Kelvin juga layaknya remaja seusianya, dan tidak berubah meski tercatat selalu juara kelas. Tidak jarang, waktunya digunakan bermain game atau kumpul bersama teman-temannya. ''Saya belajar kimia tergantung kebutuhannya. Tapi, saya memang senang membaca buku-buku kimia,'' ucapnya.

Toh, siswa yang saat itu baru lulus di SMA Sutomo 1 Medan ini, tak bisa berlama-lama menikmati kemenangannya. Setelah menerima rapor kelas akhir, ia segera berkemas-kemas untuk melanjutkan pendidikannya, menggapai impian nun jauh tanpa batas cakrawala.

Remaja bertinggi badan 175 cm ini kemudian mempersiapkan diri berangkat ke Singapura. Di sana, Kelvin tidak lagi sebatas menikmati permainan dengan alat peraga yang modern, sebagaimana ia alami di masa kecilnya. Dia bakal menempuh studi di National University of Singapura, memperdalam ilmu science kimia.
sumber: http://www.republika.co.id/berita/58783/Kelvin_Anggara_Emas_Kimia_Pertama_untuk_Negara

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Banyak Atas Komentarnya... Jangan Lupa Baca Artikel Yang Lain Ya.... :)