Friday, 28 August 2009

Selalu Ada Medali Olimpiade untuk Indonesia

Iwan K - Jakarta
Sejak pertama kali tampil sebagai negara baru di Olimpiade Helsinki tahun 1952, Indonesia tidak banyak berbicara dalam prestasi olimpiade. Hanya kenangan monumental yang selalu dicatat sebagai prestasi gemilang, saat kita menahan tim sepakbola Uni Soviet dalam Olimpiade Melbourne 1956.
Setelah itu tak ada yang dibanggakan sama sekali. Bahkan pada Olimpiade Tokyo 1964, olimpiade pertama di benua Asia, Indonesia justru dilarang tampil karena "nakal" tidak mengundang Israel dan Taiwan dalam Asian Games IV di Jakarta 1964. Lebih dari itu, Soekarno berani membuat semacam olimpiade tandingan yang bernama "Ganefo", yang peserta negara-negara baru merdeka di kawasan Asia, Afrika dan sebagian Amerika Latin.

Tindakan itu lebih menyudutkan Indonesia dalam panggung olahraga internasional, karena dianggap pembangkangan oleh IOC. Bahkan pada Olimpiade Moskow 1980, Indonesia "ikut-ikutan" memboikot karena tekanan Presiden AS Jimmy Carter, yang berkampanye secara internasional untuk memboikot olimpiade di ibukota Uni Soviet, karena ulah invasi negara raksasa itu ke Afghanistan tahun 1979.

OLIMPIADE LEBIH PENTING DARI SEA GAMES!
Olimpiade Seoul 1988 memang menjadi olimpiade bersejarah bagi Indonesia. Di pesta olahraga itu, pertama kalinya Indonesia dapat medali, meski hanya perak dari panahan. Lebih aneh lagi ada tiga negara jajahan Belanda, yang mendapat medali untuk pertama kali, yaitu Surinama (1 emas), Indonesia (1 perak) serta Antilen Belanda (1 perak).

Sejak itu selalu ada medali yang dibawa pulang. Lebih lengkapnya selalu ada medali emas diraih. Artinya, lagu "Indonesia Raya" selalu berkumandang di Olimpiade Barcelona 1992, Atlanta 1996, Sydney 2000, Athena 2004 dan Beijing 2008.

Prestasi Indonesia di olimpiade memang "kalah cepat" dibanding negara tetangga di ASEAN lainnya. Thailand dan Filipina sudah pernah meraih medali olimpiade, sebelum Indonesia. Namun prestasi mereka tidak konstan. Bandingan dengan Indonesia, sejak Olimpiade Seoul 1988, posisi Indonesia selalu teratas diantara negara-negara ASEAN dalam perolehan medali, kecuali pada Olimpiade Athena, Indonesia (no. 48) jauh dibawah Thailand (no. 25).

Pada Olimpiade Seoul 1988, Indonesia ada pada no. 36, diatas Thailand dan Filipina (no, 46). Bahkan Olimpiade Barcelona 1992, Indonesia melesat ke no. 24, meninggalkan Malaysia dan Thailand (no. 54). Hanya pada Olimpiade Atlanta 1996, posisi Indonesia (no. 41) tak beda jauh dengan Thailand (47) dan Malaysia (58). Sama halnya dengan Olimpiade Sydney 2000, Indonesia ada pada no. 37, diatas Thailand (46) dan Vietnam (64). Namun pada Olimpiade Athena 2004, posisi Indonesia (48) jauh di bawah Thailand (no. 25), saat Taufik Hidayat menyumbang 1 emas dari bulutangkis.

Apa yang bisa disimpulkan?
Ternyata, meski prestasi Indonesia menurun di kancah Sea Games dan tidak terlalu baik di Asian Games, namun prestasi Indonesia selalu teratas dan terbaik di kawasan Asia Tenggara sejak Olimpiade Seoul 1988 (kecual di Athena 2004). Saatnya Indonesia memfokuskan pada prestasi dunia di olimpiade, bukan lagi Asian Games, apalagi Sea Games. Malaysia dan Thailand memang boleh berbangga di "tingkat RT". Kenyataannya mereka keok di pentas olimpiade. Indonesia selalu lebih baik dan terbaik dibanding mereka. Cukup sudah Indonesia menjuarai Sea Games sejak 1977. Biarlah Sea Games jatahnya Thailand, Vietnam atau Malaysia untuk hiburan mereka, sekaligus pemanasan Indonesia untuk olimpiade.

SATU PRESIDEN SATU MEDALI EMAS

Presiden Sukarno memang tidak pernah merasakan dan memegang medali olimpiade yang dibawa atlit Indonesia. Namun berjasa membawa Indonesia ikut dalam gerakan olimpiade tahun 1952. Bahkan Presiden Soeharto merasakan hal yang sama, tanpa medali setelah ikut 4 kali olimpiade (1968, 1972, 1976 dan 1984).

Barulah pada tahun 1988 di Olimpiade Seoul, Presiden Soeharto bangga menerima tiga srikandi yang meraih medali pertama kali bagi Indonesia. Puncaknya tahun 1992, ketika Indonesia merebut 2 emas di Olimpiade Barcelona. Inilah prestasi terbaik dalam sejarah keikutsertaan Indonesia dalam olimpiade.

Pada Olimpiade Atlanta 1996, olimpiade terakhir di masa pemerintahan Pak Harto, tradisi medali emas tetap dipertahankan. Pada Olimpiade tahun 2000 di Sydney, Presiden Abdurrahman Wahid sempat merasakan kebanggaan medali emas olimpiade melalui pasangan Tony Gunawan/Chandra Wijaya, berlanjut saat Presiden Megawati Sukarnoputri menerima Taufik Hidayat dengan medali emasnya. Kini, pasti Presiden SBY akan menerima Markis Kido dan Hendra Setiawan, peraih medali emas Olimpiade Beijing, yang menjadi hadiah saat Indonesia merayakan HUT ke 63.

Sejak Pak Harto, selalu ada emas dipersembahkan untuk Indonesia. Kecuali pada masa Presiden Habibie, karena tidak ada olimpiade diselenggarakan. Tapi dengan penuh keyakinan, bila olimpiade diadakan pada tahun 1998 atau 1999, pasti kita bisa meraih medali emas.

Mudah-mudah pada Olimpiade London 2012, prestasi Indonesia lebih baik lagi dan lebih banyak medali diraih. Selama ini prestasi Indonesia "tidak bagus tidak juga jelek". Tapi lebih bagus dibanding negara-negara ASEAN lainnya
http://community.kompas.com/read/artikel/1004

1 comment:

  1. ciakakakak lucu tuh negeri tetangga sampe sekarang hanya bisa menang di "tingkat RT" orang sombong dan tukang klaim selalu apes.

    ReplyDelete

Terima Kasih Banyak Atas Komentarnya... Jangan Lupa Baca Artikel Yang Lain Ya.... :)