Saturday, 26 September 2009

Lumbung Pangan Indonesia

BULAN lalu sebuah media melaporkan tentang panen raya di Desa Ajubissue, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan. Diberitakan bahwa produksi padi meningkat sangat signifikan,yaitu dari sekitar lima ton gabah kering giling per hektare menjadi delapan ton.
Meningkat lebih dari 50 persen. Kenaikan yang tinggi itu, menurut media tersebut, disebabkan oleh penggunaan pupuk NPK. Perkembangan itu kebetulan sekali bersamaan dengan berbagai berita tentang tercapainya swasembada beras. Indonesia pernah mengalami swasembada semacam itu pada 1984 dan berlangsung sampai selama lima tahun, sehingga Presiden Soeharto menerima penghargaan dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO).

Di tengah-tengah terjadinya penyusutan lahan yang sangat cepat, sementara kebutuhan terhadap ketahanan pangan juga mendesak,maka merupakan angin sejuk melihat tahun 2008 Indonesia kembali swasembada beras. Selain tidak melakukan impor, di sana-sini pada tahun itu bahkan terbetik keinginan untuk melakukan ekspor. Pada 2009 ini angka ramalan pertama Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikeluarkan pada 3 Maret 2009 lalu dan diumumkan oleh Kepala BPS Rusman Heriawan, menunjukkan perkiraan produksi gabah kering giling (GKG) sebesar 60,932 juta ton.

Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, 60,251 juta ton. Sangat dimengerti ramalan optimistis tersebut karena dilakukan pada saat Indonesia masih banyak mengalami hujan. Menariknya, angka ramalan kedua yang dikeluarkan pada 1 Juli 2009, perkiraan produksi GKG justru meningkat lebih tinggi lagi. Ramalan yang diumumkan oleh Ali Rosidi,Deputi Kepala BPS Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, itu mencapai 62,56 juta ton.

Dengan produksi sebesar ini,maka jumlah produksi beras selama 2009 diperkirakan mencapai 35,43 juta ton,karena rasio konversi dari GKG ke beras adalah sebesar 56,54 persen. Sementara itu, konsumsi beras di tahun 2009, dengan mendasarkan pada jumlah penduduk sebesar 231 juta orang dan konsumsi per kapita sebesar 139,15 kg beras per tahun, maka diperlukan persediaan beras sebesar 32,1 juta ton. Ini berarti, jika angka ramalan kedua BPS tersebut sungguh-sungguh terealisasi, maka untuk tahun 2009 ini akan tercapai surplus sebesar 3,3 juta ton, suatu jumlah yang sangat signifikan.

Angka ramalan pertama BPS tersebut berdasarkan luas panen sebesar 12,422 juta hektare.Untuk diketahui,jika sebuah lahan seluas 1.000 hektare menghasilkan panen dua kali, lahan tersebut dihitung sebagai luas panen sebesar 2.000 hektare. Luas panen tersebut di atas meningkat 113.000 hektare. Sedangkan produktivitas lahan tersebut mencapai 49,05 kuintal per hektare, peningkatan 0,21 persen dibanding tahun 2008.

Akan tetapi dalam angka ramalan kedua, luas lahan yang dipanen diperkirakan naik 341.560 hektare, sementara produktivitas meningkat 0,44 kuintal per hektare atau 0,9 persen.Suatu peningkatan produktivitas yang bisa dikatakan cukup tinggi.

Menjadikan Indonesia Lumbung Pangan


Dikaitkan dengan berita di awal artikel ini,pupuk NPK dikatakan sebagai faktor penentu kenaikan produksi padi. Itulah sebabnya Wakil Presiden Jusuf kalla meminta semua BUMN pupuk untuk mengembangkan pupuk NPK ini.

Dewasa ini produsen pupuk NPK terbesar adalah Petrokimia Gresik. Perusahaan tersebut memproduksi pupuk NPK dengan cara pencampuran (blending) maupun melalui reaksi kimia. Cara kedua ini menghasilkan pupuk NPK yang lebih baik. Pabrik granul NPK Petrokimia Gresik juga sudah sampai pada tahap empat dengan menghasilkan 360.000 ton. Pupuk Kaltim dan Pupuk Kujang juga telah menghasilkan pupuk NPK dengan cara blending. Secara keseluruhan Indonesia sudah menghasilkan pupuk NPK lebih dari 2 juta ton dewasa ini.

Perbaikan produktivitas melalui diversifikasi penggunaan pupuk tersebut perlu terus diikuti dengan pembangunan kembali prasarana pertanian seperti dam dan irigasi, sehingga lahan padi dapat menghasilkan panen lebih dari satu kali. Cara ini akan secara cepat mengompensasi penyusutan lahan akibat konversi ke properti ataupun penggunaan lainnya. Sementara itu, peningkatan kualitas benih akan dapat meningkatkan lebih lanjut produktivitas pertanian padi.

PT Bisi International Tbk, perusahaan pengembangan benih produk pertanian yang dikembangkan oleh Charoen Pokphand Group, berhasil memproduksi benih jagung yang dapat menghasilkan 14 ton jagung per hektare.Prestasi ini harus dibandingkan dengan jagung lokal yang dikembangkan di Pulau Madura yang hanya meningkat dari 1,5 ton menjadi 2 ton per hektare.Di Indonesia, selain PT Bisi, juga ada Du Pont yang mengembangkan produksi benih jagung. Dengan melihat perkembangan itu, kita tidak perlu berkecil hati dengan keadaan saat ini yang masih menunjukkan pertumbuhan impor berbagai produk pertanian.

Jika kecenderungan yang terjadi pada produksi padi tersebut berkelanjutan, maka tidak hanya swasembada, surplus beras pun akan mampu kita hasilkan dalam beberapa tahun mendatang. Perkembangan ini bisa juga dilakukan untuk produksi jagung, gula, dan kedelai.Perbaikan bibit tebu akan mampu meningkatkan rendemen dari tebu tersebut.Terlebih dengan pembangunan pabrik-pabrik gula yang baru, maka sangat mungkin bagi Indonesia untuk menjadi produsen gula dunia sebagaimana yang pernah kita alami semasa zaman kolonial Belanda.

Indonesia memiliki kemampuan untuk menjadikan dirinya sebagai lumbung pangan dunia.Tanah yang luas dan subur dewasa ini menunggu tangan-tangan yang pintar untuk mengembangkannya sesuai dengan cita-cita tersebut.Pengalaman pengembangan kebun kelapa sawit yang menjadikan Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia, rasanya bisa diadopsi dalam pengembangan produkproduk pertanian yang lain. (*)
Sumber: antaranews.com

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Banyak Atas Komentarnya... Jangan Lupa Baca Artikel Yang Lain Ya.... :)