Wednesday, 21 March 2012

Mimpi Jakarta-Bandung 45 Menit

Hafiz Online - Pemerintah rupanya diam-diam mengajak Jepang membangun kereta supercepat antara Jakarta-Bandung. Dengan kereta itu jarak tempuh sepanjang 144 kilometer itu hanya 45 menit.

Ini waktu sangat memukau mengingat perjalanan kereta saat ini masih membutuhkan 3 jam, sedangkan menggunakan bus sekitar 2-3 jam.

Pemerintah Jepang telah menunjuk Japan Railway Technical Service, sebagai rekanan Yachiyo Engineering Co. Ltd, untuk menggarap pra-studi kelayakan. Studi ini diperkirakan membutuhkan waktu 4-12 bulan.

Dirjen Perkeretapian Kementerian Perhubungan Tundjung Inderawan mengatakan, skema pembiayaan pembangunan kereta api supercepat akan dikerjasamakan dengan swasta melalui mekanisme Public Private Partnership (PPP). Namun, pemerintah akan mengambil bagian tak lebih dari 50 persen. "Ini yang sedang dibicarakan," kata Tundjung di Jakarta, Senin 19 Maret 2012.
Untuk konsepnya, Tundjung mengungkapkan akan dibuat rel-rel baru yang dimulai dari Dukuh Atas (Sudirman) melewati Stasiun Bekasi, Stasiun Karawang, Stasiun New Airport, masuk ke Stasiun Bandung dan terakhir di Stasiun Gede Bage.

Prakiraan sementara, waktu tempuh perjalanan kereta api cepat Jakarta-Bandung sebagai berikut:

1. Tipe Kereta Api Super Express dengan perjalanan Jakarta - Bandara Baru (Karawang) - Bandung membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit.

2. Tipe Kereta Api Airport Shuttle dengan perjalanan Jakarta - Bandara Baru, membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit.

3. Tipe Kereta Api Express dengan perjalanan Jakarta sampai Bandung dengan pemberhentian di setiap stasiun membutuhkan waktu kurang lebih 50 menit.
Rencananya, rute ini akan menggunakan kereta JR EAST Seri E5 dan JR EAST Seri E2 yang mampu melaju 300 km per jam. Di negeri asalnya, kereta ini memiliki nama Shinkansen. (Foto kereta supercepat itu bisa dilihat di tautan ini).
Kereta ini mampu menaklukkan perbukitan Cikampek-Bandung yang memiliki sudut kemiringan 25 derajat. Bahkan, di tengah tanjakan ini, E5 dan E2 masih bisa melaju 210 km per jam.
Dalam proposal dua lembaga Jepang, nilai proyek ini mencapai US$5,954 miliar atau sekitar Rp56,108 triliun. Nilai terbesar pada pengerjaan sipil yang mencapai Rp23,6 triliun. Lalu disusul pembangunan rel dan stasiun yang masing-masing Rp3,1 triliun dan Rp3,8 triliun. Sedangkan total biaya konstruksi Rp46,288 triliun.
Pengamat perkeretaapian Joko Setijowarno menyambut baik rencana ini. Dosen Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang, itu mengatakan proyek kereta supercepat akan saling menguntungkan bagi Jepang dan Indonesia.

Indonesia bisa memiliki moda transportasi supercepat yang bisa menggerakkan masyarakat agar lebih produktif, dan Jepang bisa berinvestasi. "Apalagi banyak perusahaan-perusahaan di sepanjang jalur itu. Pasti ini sangat menguntungkan mereka," kata dia.

Meski demikian, dia mengatakan, pembangunan ini tak masalah selagi tak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. "Belanda membangun jalur kereta di Indonesia menggunakan sistem kompensasi, sehingga pemerintah tak terbebani," katanya.

KAI tak sanggup
PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sendiri mengaku tak sanggup berinvestasi membangun kereta supercepat ini. "Kami tak sanggup membangun sarana dan prasarana dengan nilai investasi hingga Rp60 triliun. Pasti tak bisa," kata Direktur Utama PT KAI, Ignatius Jonan di Jakarta, Senin.

Jonan menyampaikan alasan utama mengapa tidak sanggup investGsi. Menurut dia, bila KAI yang berinvestasi bisa berimbas pada harga tiket yang mencapai Rp500 ribu. "Itu untuk sekali jalan," katanya.

Hal ini berbeda jika proyek ini dikerjakan oleh swasta dan pemerintah secara bersama-sama. Dia mengatakan, penumpang kereta Jakarta-Bandung hanya sekitar 4.000 penumpang per hari. Artinya, bila harga tiket tak mencapai Rp500 ribu, investasi KAI tak akan untung.

Jonan mengatakan pentingnya peran pemerintah dalam investasi ini. Sebab, nantinya pemerintah yang harus menentukan besaran tarif angkutan rakyat itu. "Karena itu porsi pemerintah harusnya jauh lebih besar dibandingkan swasta," katanya.

Menurut Jonan, pembangunan kereta api cepat ini belum jadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat Indonesia, karena dilihat dari pendapatan per kapita masih kecil. "Kereta ini akan jadi kebutuhan jika pendapatan per kapita masyarakat sudah di atas US$10 ribu," ujar Jonan.

Jonan menggambarkan banyak negara yang pendapatan per kapitanya sudah tinggi, tapi belum memiliki kereta supercepat. "Inggris dan Amerika saja tidak punya. Tapi Jepang, China, dan Korea punya," Jonan menambahkan.

Sumber: Viva News

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Banyak Atas Komentarnya... Jangan Lupa Baca Artikel Yang Lain Ya.... :)