Tuesday, 20 December 2011

Indonesia Pertama di ASEAN yang Teliti Dampak Kanker

Jakarta-Kementerian Kesehatan menyambut baik diadakannya Fase II Studi ACTION (ASEAN CosTs in Oncology Study) di Indonesia. Studi tentang dampak sosial ekonomi kanker yang akan diadakan di delapan Negara ASEAN, yang mana Indonesia menjadi negara pertama yang memulainya.

"Kanker merupakan salah satu penyebab utama kematian global dengan angka mencapai 13 persen (7,4 juta) dari semua kematian setiap tahunnya. 70 persen dari kematian akibat kanker terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah," kata Menteri Kesehatan (Menkes), Endang Rahayu Sedyaningsih dalam sambutannya saat pembukaan acara Fase II Studi ACTION di JW Marriot Hotel, Kuningan, Jakarta, Jumat (16/12).

Berdasarkan riset kesehatan dasar 2007, prevalensi tumor adalah 4,3 per 1000 penduduk di Indonesia. Kanker merupakan penyebab kematian nomor tujuh atau sekitar 5,7 persen setelah stroke, Tuberkulosis (TB), Hipertensi, Cidera, Perinatal dan Diabetes Mellitus (DM).

Menurut Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS), jenis kanker tertinggi di RS seluruh Indonesia melalui pasien rawat inap tahun 2008 adalah kanker payudara sebanyak 18,4 persen, disusul kanker leher rahim (10,3 persen).

Menurut Endang, selain dapat mengetahui besaran biaya yang dihabiskan untuk penderita kanker dan keluarganya selama perawatan, tentunya studi ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun perencanaan berdasarkan fakta (basse evidence) yang komperehensif, mulai dari upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabiliative maupun paliatif.

"Saat ini besarnya permasalahan kanker di Indonesia terutama terkait dampak ekonomi belum diketahui secara pasti. Untuk itu penting sekali dilakukan penelitin yang terkait ini. Dan ini juga sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan dan pengendalian kanker di nusantara," jelas Menkes.

Sementara itu, investigator Kepala Studi dari Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan dan Analisa Kebijakan, Unversitas Indonesia, Prof Hasbullah Thabaany mengungkapkan, studi prospektif ini akan melibatkan 1.000 pasien yang menjalani pengobatan dan didaftar di rumah sakit pada semua tahapan kanker di delapan negara anggota ASEAN, yakni Malaysia, Kamboja, Indonesia, Laos, Myanmar, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Untuk Indonesia, mendapatkan jumlah pasien terbesar, yaitu sebanyak 2400 pasien dari dua belas senter kanker di tujuh propinsi.

"Kami menyadari bahwa tanpa intervensi yang bersifat segera, beban kanker akan meningkat sangat pesat dengan tuntutan terhadap sistem kesehatan dan biaya ekonomi yang akan terlalu besar untuk ditanggung oleh negara," kata Hasbullah.

Sumber: Pelita Online

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Banyak Atas Komentarnya... Jangan Lupa Baca Artikel Yang Lain Ya.... :)