Monday, 6 April 2015

Belajar di Alam Itu Menyenangkan

Pagi ini, sebagaimana biasa saya mengajar di kelas VII Pi. Pagi ini saya tergesa-gesa ke ruangan majlis guru karena kelompok tahfiz saya agak terlambat selesainya. Di tambah lagi saya tidak mandi sebelum subuh, otomatis mandi pagi nya dipindahkan setelah tahfiz. Tanpa memperpanjang waktu, setelah tahfiz ba’da subuh selesai, saya langsung mandi pagi dan bergegas datang ke kantor asrama. Jarak antara kantor dan asrama tidak jauh, hanya beberapa meter saja. Santri sudah mulai berbaris untuk apel pagi, terlihat Pak Kepsek kami Betharianto, MA sedang memimpin apel pagi. Saya langsung masuk ke kantor asrama dan menyiapkan perlengkapan mengajar pagi ini, yaitu file warna hijau berisi absen santri dan nilai santri yang wajib dipunyai oleh setiap ustadz dan ustadzah yang mengajar, dan tak lupa pula buku panduan saya yaitu buku pelajaran Muthalaah.

Pelajaran muthalaah ini merupakan cabang dari pelajaran bahasa Arab, dalam mata pelajaran ini buku yang saya pakai yaitu Khulashah Nuril Yakin. Berisi tentang sejarah kehidupan Rasulullah Saw.

Jam 08.25 Wib apel pagi selesai, saya langsung menuju ruang kelas VII Pi. Dari beberapa kelas yang saya ajar, kelas VII Pi ini sangat kritis sekali. Hal  yang selalu mereka komentari adalah tentang penampilan saya. Jika baju yang saya pakai menurut mereka tidak cocok, maka mereka akan mengatakannya langsung. Menurut mereka baju yang cocok bagi saya adalah baju kemeja lengkap dengan dasi. Baju batik tidak cocok buat saya. Padahal pakaian favorit saya kan baju batik.  Bahkan parfum yang saya pakai juga mereka beri komentar. Jika masuk kelas VII Pi ini, saya selalu memakai parfum berbau strawberry. Kalau berubah parfum yang saya pakai pasti mereka akan beri komentar. Pernah sekali saya memakai parfum... (saya lupa namanya). Awal saya masuk kelas, langsung terdengar celotehan dari seorang santri: “ pedas ustadz, pedas banget baunya, ganti....”. Mereka protes agar saya mengganti parfum saya. Itulah santri Putri kelas VII, dengan plus dan minusnya. Mereka perhatian sekali dengan saya sebagai guru mereka. saya masih teringat ucapan guru saya ketika saya di bangku MTsN dulu: “ Cintai dulu gurumu, maka kamu akan cinta pelajarannya”. Dan memang itu terbukti. Saya sudah buktikan sendiri. Ketika saya jadi guru, santri-santri saya juga melakukan hal yang sama. Jika saya tidak menarik menurut mereka, mereka agak malas belajar dengan saya. Makanya dalam mengajar, bukan hanya penguasaan materi yang harus dipunyai oleh seorang guru, namun ada yang lebih penting dari pada itu yaitu penampilan yang menarik dan percaya diri yang tinggi di hadapan santri.

ketika kakiku kulangkahkan masuk kelas VII Pi, mereka sudah menjawab salamku dengan semangatnya, “waalaikum salam ustadz”, kata mereka serentak. Padahal saya belum mengucapkan apa-apa. Pasti ini ada keinginan yang tersembunyi. Tebakan saya ternyata benar, mereka ingin belajar ke sungai. Kegirangan meliputi wajah mereka semua ketika saya anggukkan kepalaku tanda menyetujui usulan mereka untuk belajar ke sungai.


Kami berjalan menyusuri jalan kecil menuju sebuah sungai yang tidak jauh dari Ponpes. Hanya beberapa menit saja, kami sudah sampai di sungai. Dan mulainya proses belajar mengajar. Tanpa terasa waktu 2 jam pelajaran berlalu dengan cepatnya, karena semangat dan keseriusan mereka dalam mengikuti pelajaran. Hmm.. saya bergumam di dalam hati: “ Tempat belajar hanya wasilah untuk menyampaikan pelajaran kepada santri, tujuan belajar adalah terjadinya proses transfer ilmu. Asal tujuan tercapai berbagai wasilah boleh digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Agar tercapai tujuan kita, kadang dibutuhkan hati untuk mendengar pendapat mereka, karena anak seumuran mereka butuh untuk di dengar. Jika kita sudah dengarkan ide mereka, mereka pasti akan lakukan dengan sungguh-sungguh. Buktinya semua mengikuti PBM dengan baik. Kadang belajar di alam terbuka merupakan pilihan terbaik untuk menghilangkan kejenuhan santri dari belajar di ruang kelas. Mari kita kembangkan ide bersama santri. Kita selami dunia mereka, jangan paksa mereka ikut dunia kita. Jika kita sudah menyelami dunia mereka, nanti kita akan mudah untuk memberi warna terhadap dunia mereka. berikanlah sentuhan lembut kita, kembangkan imajinasi mereka. ingat mereka adalah generasi pelanjut kita.”

Pondok Pesantren Modern Subulussalam
Senin, 6 April 2015, 11.00 PM

Bersambung........

3 comments:

Terima Kasih Banyak Atas Komentarnya... Jangan Lupa Baca Artikel Yang Lain Ya.... :)