Sunday, 5 April 2015

Disana Ada Cinta, Disinipun Sama


Selamat sore sahabatku, sambil duduk-duduk di kantor asrama mengamati aktifitas santri yang sedang latihan tapak suci dan sambil menunggu santri kelas IX yang kembali ke Pesantren pada hari ini. Mereka di pulangkan ke rumah masing-masing pada kamis kemarin setelah menyelesaikan UAS. Beberapa orang dari mereka baik putra maupun putri sudah mulai nampak berdatangan.

Rintik-rintik gerimis tak terasa mulai membasahi kawasan pondok, memang saat ini lagi musim hujan, hampir tiap hari hujan mengguyur Pesantren kami. Awan mendung hitam gelap nampak nyata di langit yang biasanya biru. Namun cuaca seperti ini tidak menyurutkan semangat santri untuk beraktifitas sebagaimana biasa.

Di tulisan saya kali ini, sebagaimana pesan penulis kondang. Kalau tidak salah namanya Mbak Helvy Tiana Rosa, cobalah menulis dengan hati. Hmm, saya akan coba menulis dengan hati. Walaupun kadang mentok kehilangan ide ketika di saat menulis. Maklum belum terbiasa, seperti wartawan yang kadang dalam sehari bisa menulis beberapa berita sekaligus.

Baiklah, saya akan mencoba menulis pengalaman saya selama menjadi pengasuh di Pesantren Modern Subulussalam. Ketika saya diterima di Pesantren ini saya diamanahi untuk mengurus santri, istilah kami sebagai wali kamar. Saya bertanggung jawab kepada beberapa orang santri yang menjadi anak asuh saya. Pengalaman menarik terjadi ketika saya di tahun kedua disini, kebetulan di tahun kedua ini saya dipercaya sebagai Waka Bagian Asrama. Disamping saya sebagai Waka Bagian Asrama, saya juga sebagai pengasuh atau wali kamar santri. Setelah santri dibagi menjadi beberapa kamar. Saya memilih menjadi wali kamar santri kelas I. Jumlahnya sekitar 16 orang santri dalam satu kamar itu. Mereka kami beri fasilitas lemari, Dipan tidur yang dua tingkat dan kasur. Sementara bantal dan lain-lain mereka bawa dari rumah masing-masing.


Di hari-hari pertama, merupakan masa-masa sulit bagi santri baru. Karena mereka akan menempuh keadaan yang belum pernah mereka rasakan. Setelah santri baru masuk, kami sengaja membuat program yaitu selama 1 bulan orang tua santri dilarang untuk mengunjungi ataupun sekedar berbicara dengan anaknya ditelpon. Jika ada yang perlu diantarkan untuk anaknya harus melalui ustadz atau ustadzah, janjiannya di luar komplek pesantren. Hmm... sadis banget peraturannya kata sebagian orang tua,, hahaha. Namun demi untuk merubah kebiasaan anak dari zona nyamannya kepada zona yang tidak nyaman bagi sebagian orang, hal ini harus kami lakukan. Sampai mereka terbiasa. Karena kegiatan mereka terjadwal mulai dari jam 4 subuh sampai jam 10 malam. Kami memilih program ini mempunyai 2 tujuan, yaitu untuk menguji anak jauh dari orangtua dan menguji orangtua jauh dari anak.

Di hari pertama, pemandangan mata bengkak dan isak tangis terlihat dimana-mana baik di asrama santri putra maupun di asrama santri putri. Saat-saat itulah, saat yang sulit baik bagi anak maupun bagi orangtua santri. Berpisah dengan anak selama 1 bulan tidak boleh di temui dan dilihat.

Bahagia Milik Semua

hari berganti hari, beberapa hari pertama biasa saja. Santri disibukkan dengan MOS, siang malam kegiatan mereka padat. Setelah itu, sudah mulai ada orangtua yang menelpon minta berbicara dengan anaknya bahkan sampai ada orangtua yang menangis-menangis ingin mendengar suara anaknya. Peraturan tetap peraturan, kami tidak izinkan. Bahkan ada yang nekat langsung datang ke Pesantren.

Sedangkan santri, karena mereka sedang masa transisi dari masa SD ke tingkat SMP, dari biasanya jam 6 baru bangun dan terbiasa dengan berbagai hiburan di rumah dengan gadget dan TV. Semua di Pesantren itu tidak ada. Jam 4 subuh sampai jam 10 malam sudah ada jadwal kegiatan. Sudah mulai ada rasa jenuh dari mereka. Sudah mulai ada yang kangen dengan suasana rumah. Sudah ada yang rindu dengan fasilitas di rumah. Sudah mulai nampak sifat asli mereka, seperti manja, susah di bangunkan bahkan ada juga yang ngompol.

Disitulah saya sebagai single parent, hehehe. Harus mencari ide untuk membuat mereka senyaman mungkin. Kadang sebelum tidur saya bacakan mereka dongeng. Kadang ada juga, sebelum tidur minta diusap-usap kepalanya, Kadang kami ketawa bersama, bercanda bersama dan bermain bersama. Setelah dijalani, banyak pelajaran yang dapat kita ambil sebagai orangtua pengganti atau pengasuh. Dengan menjalaninya kita bisa memahami karakter masing-masing anak, 16 santri dalam satu kamar, 16 pula sifatnya. Disitu cinta, kasih sayang dan kebijaksaan kita sangat diharapkan. Alhamdulillah para ustadz dan ustadzah di asrama melakukannya dengan penuh cinta. mereka berhasil untuk bisa move on dari suasana rumah ke suasana pondok yang di setting sedemikian rupa yang padat dengan berbagai macam kegiatan, kami berhasil pula menjadi orangtua bagi mereka. Alhamdulillah. Disini, di Pesantren Modern Subulussalam ada cinta. orangtua memberikan mereka cinta, di sinipun sama.

Pondok Pesantren Modern Subulussalam
Minggu, 5 April 2015, 4:46 PM

Bersambung......

2 comments:

  1. di ponpes apa tuh gan? ente ngjar juga?

    ReplyDelete
  2. Ponpes Subulussalam di Padang Pariaman, Sumatera Barat. saya ngajar disini Gan,, Jangan Lupa Datang Berkunjung Ya,,,

    ReplyDelete

Terima Kasih Banyak Atas Komentarnya... Jangan Lupa Baca Artikel Yang Lain Ya.... :)